Nih ...
Perang - Perang Yang Dilakukan pada masa Rasulullah SAW
I.
Pendahuluan
Nabi Muhammad SAW ,
Pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW terjadi banyak pemberontakan dari kaum
kafiryang tidak menyukai Rasulullah SAW. Rasulullah SAW harus menghadapai
pemberontakan dari kaumm-kaum kafir pemberontak . Berikut beberapa perang yang
pernah diikuti Rasulullah SAW melawan kaum kafir dimasa periode Mekah dan
Madinah :
II.
Isi
A.
Perang di Periode Mekkah :
1.
Fatkhu
Makkah
Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa
pertumpahan darah sedikitpun sekaligus menghancurkan berhala
yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah
Pada tahun 628, Quraisy dan
Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah
dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan
senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani
Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu
Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut
dimana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah
dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin
Quraisy.
Abu Sufyan,
kepala suku Quraisy di
Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu,
tetapi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar
10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai.
Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk
menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah. Selain itu hukuman mati
juga ditetapkan atas 17
orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap
orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.
2.
Perang Hunain
Setelah kota Makkah sempurna ditaklukkan,
orang-orang mulai berbondong-bondong masuk ke agama Allah, termasuk kaum
Quraisy. Hal ini menyebabkan pembesar Hawazin dan Tsaqif merasa khawatir bahwa
Rosulullah dan pengikutnya akan bergerak menyerbu mereka. Abul Hasan ‘Ali
Al-Hasani an-Nadwi menulis dalam bukunya bahwa Kaum Hawazin adalah kekuatan
terbesar setelah kaum Quraisy. Kaum Hawazin dan Quraisy saling berlomba dalam
hal kekuatan. Hawazin tidak tunduk kepada sesuatu, yaitu Islam yang Quraisy
telah takluk padanya. Hawazin ingin menjadi kekuatan yang utama dengan mencoba
mencabut Islam dari akarnya.
Kekhawatiran ini menyebabkan mereka bermaksud
menyerang Rosulullah dan pengikutnya terlebih dahulu sebelum mereka diserang.
Maka kemudian, di bawah pimpinan Malik bin Auf An-Nashary, salah seorang tokoh
Hawazin, mereka menghimpun kekuatan dimana bergabung bersamanya seluruh Bani
Tsaqif, Bani Nashr, Bani Jusyam, juga Said bin Bakr. Said bin Abi Bakr ini
adalah kabilah dimana Rosulullah pernah menyusui.Sedangkan Bani Ka’ab dan Bani
Kilab menentang Kaum Hawazin dan bergabung bersama Rosulullah.
Mereka disertai pula seorang bernama Duraid
bin Ash-Shammah, pemimpin dan orang termuka di kalangan Bani Jutsam. Dia
dikenal sebagai seorang tua yang pemberani dan berpengalaman. Usianya saat itu
sudah 120 tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih. Dia juga buta sehingga dia
hanya dimintai pendapat dan pengetauhuannya saja mengenai perang. Adapun
panglima kaum Tsaqif saat itu adalah Kinanah bin ‘Abdu Yalil –yang dikemudian
hari memeluk Islam –.
Setelah mengetahui keberangkatan Rosulullah,
Malik segera menempatkan pasukannya di lembah Hunain dan meyebarkan mereka di
lorong persembunyian lembah guna melancarkan serangan mendadak dan serempak.
Semua ini atas petunjuk Duraid.
Ketika Rosululah sampai di Hunain, lalu
menuruni lembah dan waktu itu masih gelap, kaum musyrikin mendadak melancarkan
serangan dari berbagai lorong dan tempat persembunyian lembah sehingga
kuda-kuda mereka berlarian dan orang-orang pun mundur tunggang langgang.
Sehingga secara umum, pasukan kaum Muslimin menderita kekalahan,
Mengetahui hal itu, kaum musyrikin begitu
bergembira. Abu Sufyan kemudian berkata,”Kekalahan mereka tidak akan sampai ke
Laut (Laut Merah).
Sementara itu, Rosulullah minggir ke arah
kanan kemudian memanggil dengan suara keras, “Kemarilah, wahai Hamba-Hamba
Alloh!Sesungguhnya, aku seorang Nabi yang tidak berdusta. Aku adalah putra
(cucu) Abdul Muthalib.”
Abu Sufyan Ibn Al-Harits segera memegangi tali
kendali baghal Rosulullah dan Al Abbas memegangi pelananya berusaha menahannya
agar tidak terburu-buru melesat ke arah musuh. Belaiu pun turun dari baghal
itu, allu berdoa dan memohon portolongan Allah.
Rosulullah SAW kemudian memerintahkan
Al-Abbasm orang yang suaranya paling keras untuk menyeru para sahabat. Al Abbas
berteriak dengan suara kerasnya, “ Wahai Assh-habus Samroh! (para sahabat yang
pernah melakukan Baiat Ridwan padda tahun Hudaibiyah”.
Abbas berkata, “Demi Alloh, begitu endengar
teriakan itu, mereka segera kembali seperti sapi yang datang memenuhi panggilan
anaknya, seraya berkata,”Kami sambut seruanmu, kami sambut seruanmu!” Hingga
akhirnya terkumpul sekitar seratus orang yang siap menerjang musuh dan
berperang mempertaruhkan nyawa.
Seruan seperti itu kemudian juga ditujukan kepada kalangan
Anshar dan Bani Al-Harits ibn Al-Khazraj. Maka bergabunglah berbagai pasukan
satu demi satu. Sehingga di sekeliling Rosulullah SAW terhimpun sekumpulan
pasukan kaum muslimin dalam jumlah besar.
Allah menurunkan ketenangan kepada Rosulullah dan orang-orang
beriman. Allah juga menurunkan bala tentara yang tidak terlihat secara kasat
mata. Pasukan Muslimin pun kembali berlaga di medan perang dan peperangan pun
berkobar kembali. Rosulullah berkata, “Authas telah berkecamuk”.
Beliau kemudian memungut segenggam pasir dan
melemparkannya ke arah wajah pasukan musuh seraya berseru, “ Terhinalah wajah
kalian”. Sementara dalam Kitab Sirah Nabawiyah Karangan Dr. Al-Buthy seruan
Rosulullah berbunyi,”Musnahlah kalian demi Rabb Muhammad”.
Kemudian, kedua mata kaum musyrikin menjadi
dipenuhi debu dan mereka pun mundur serta melarikan diri. Kaum muslimin lalu
mengejar pasukan musuh dan membunuh serta menawan kaum musyrikin, termasuk
wanita dan anak-anak mereka. Ada sebagian kaum muslimin yang membunuh anak-anak
musuh, maka Rosulullah kemudian melarang membunuh anak-anak dan wanita.
Dalam perang ini, Duraid bin Ash-Shammah
terbunuh sementara Khalid bin Al Walid menderita luka-luka yang cukup parah.
Tatkala musuh mengalami kekalahan, beberapa orang kafir Makkah menyatakan diri
masuk Islam.
Periode Madinah :
1.
Pertempuran Khaibar
Pertempuran yang
terjadi antara umat Islam yang dipimpin Muhammad dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaibar, sekitar 150 km
dari Madinah, Arab Saudi. William Montgomery Watt menganggap penyebab pertempuran ini
adalah Yahudi Bani Nadhir yang menimbulkan permusuhan melawan
umat Islam. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam, dan Muhammad
berhasil memperoleh harta, senjata,
dan dukungan kabilah setempat. Hanya beberapa hari Muhammad
berada di Madinah usai peristiwa Hudaibiya itu. Sekitar dua pekan kemudian,
rasul bahkan memimpin sendiri ekspedisi militer menuju Khaibar, daerah sejauh
tiga hari perjalanan dari Madinah. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi
benteng utama Yahudi di jazirah Arab. Terutama setelah Yahudi di Madinah
ditaklukkan oleh rasulullah.
Yahudi tak
mempunyai cukup kekuatan untuk menggempur kaum Muslimin. Namun mereka cerdik.
Mereka mampu menyatukan musuh-musuh Muhammad dari berbagai kabilah yang sangat
kuat. Hal itu terbukti pada Perang Khandaq. Bagi warga Muslim di Madinah,
Yahudi lebih berbahaya dibanding musuh-musuh lainnya.
Maka Muhammad
menyerbu ke jantung pertahanan musuh. Suatu pekerjaan yang tak mudah dilakukan.
Pasukan Romawi yang lebih kuat pun tak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang
memiliki sistem pertahanan berlapis-lapis yang sangat baik. Sallam anak Misykam
mengorganisasikan prajurit Yahudi. Perempuan, anak-anak dan harta benda mereka
tempatkan di benteng Watih dan Sulaim. Persediaan makanan dikumpulkan di
benteng Na’im. Pasukan perang dikonsentrasikan di benteng Natat. Sedangkan
Sallam dan para prajurit pilihan maju ke garis depan.
Sallam tewas dalam
pertempuran itu. Tapi pertahanan Khaibar belum dapat ditembus. Muhammad
menugasi Abu Bakar untuk menjadi komandan pasukan. Namun gagal. Demikian pula
Umar. Akhirnya kepemimpinan komando diserahkan pada Ali.
Di Khaibar inilah
nama Ali menjulang. Keberhasilannya merenggut pintu benteng untuk menjadi
perisai selalu dikisahkan dari abad ke abad. Ali dan pasukannya juga berhasil
menjebol pertahanan lawan. Harith bin Abu Zainab -komandan Yahudi setelah
Sallam-pun tewas. Benteng Na’im jatuh ke tangan pasukan Islam.
Setelah itu benteng
demi benteng dikuasai. Seluruhnya melalui pertarungan sengit. Benteng Qamush
kemudian jatuh. Demikian juga benteng Zubair setelah dikepung cukup lama.
Semula Yahudi bertahan di benteng tersebut. Namun pasukan Islam memotong
saluran air menuju benteng yang memaksa pasukan Yahudi keluar dari tempat
perlindungannya dan bertempur langsung. Benteng Watih dan Sulaim pun tanpa
kecuali jatuh ke tangan pasukan Islam.
Yahudi lalu
menyerah. Seluruh benteng diserahkan pada umat Islam. Muhammad memerintahkan
pasukannya untuk tetap melindungi warga Yahudi dan seluruh kekayaannya, kecuali
Kinana bin Rabi’ yang terbukti berbohong saat dimintai keterangan rasulullah.
Perlindungan itu
tampaknya sengaja diberikan oleh rasulullah untuk menunjukkan beda perlakuan
kalangan Islam dan Kristen terhadap pihak yang dikalahkan. Biasanya, pasukan
Kristen dari kekaisaran Romawi akan menghancurludeskan kelompok Yahudi yang
dikalahkannya. Sekarang kaum Yahudi Khaibar diberi kemerdekaan untuk mengatur
dirinya sendiri sepanjang mengikuti garis kepemimpinan Muhammad dalam politik.
Muhammad sempat
tinggal beberapa lama di Khaibar. Ia bahkan nyaris meninggal lantaran diracun.
Diriwayatkan bahwa Zainab binti Harith menaruh dendam pada Muhammad. Sallam,
suaminya, tewas dalam pertempuran Khaibar. Zainab lalu mengirim sepotong daging
domba untuk Muhammad. Rasulullah sempat mengigit sedikit daging tersebut, namun
segera memuntahkannya setelah merasa ada hal yang ganjil. Tidak demikian halnya
dengan sahabat rasul, Bisyri bin Bara. Ia meninggal lantaran memakan daging
tersebut.
Khaibar telah
ditaklukkan. Rombongan pasukan rasulullah kembali ke Madinah melalui Wadil
Qura, wilayah yang dikuasi kelompok Yahudi lainnya. Pasukan Yahudi setempat
mencegat rombongan tersebut. Sebagaimana di Khaibar, mereka kemudian
ditaklukkan pula. Sedangkan Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa
melalui peperangan.
Dengan penaklukan
tersebut, Islam di Madinah telah menjadi kekuatan utama di jazirah Arab.
Ketenangan masyarakat semakin terwujud. Dengan demikian, Muhammad dapat lebih
berkonsentrasi dalam dakwah membangun moralitas masyarakat.
2.
Pertempuran
Badar
Pertempuran besar
pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17
Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang
berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang
berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan
Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur
dalam kekacauan.
Sebelum pertempuran
ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik
bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik
bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian,
Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara
kedua kekuatan itu. Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam
usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang
dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih
besar. Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi
pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan
Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain
ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam.
Bagi kaum Muslim awal,
pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka
sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat
itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah.
Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa
suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas
Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang
sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan
membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi
agama Islam pun dimulai.
Kekalahan Quraisy dalam
Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal
ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud.
III.
Kesimpulan
Dari
Kisah perang kaum muslimin melawan kaum kafir yang pernah diikuti oleh Nabi
Muhammad SAW dapat kita tarik kesimpulan bahwa seharusnya pasukan muslimin
berperang Untuk berjihad di jalan ALLAH , bukan untuk keinginan yang lain. Nabi
Muhammad SAW dan para sahabat telah melakukan jihad di jalan ALLAH.Kita
sepaptutnya meniru tindakan tersebut , yang jihad hanya untuk ALLAH bukan
keinginan yang lain
Sekian post saya . Kritik , Saran , Comment dibutuhin gan :D Makasih :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar